Makna Ketulusan Lebih Sempurna Dengan Berbagi

Sepasang suami-istri beruntung mendapatkan tiket untuk kembali ke rumah orangtuanya di kampung halaman. Begitu mereka memasuki bus, ternyata salah satu bangku pesanan mereka sudah ditempati seorang wanita. Sang suami meminta istrinya untuk duduk terlebih dulu di sebelah wanita itu. Sementara sang suami itu sendiri hanya berdiri di samping istrinya tanpa meminta wanita itu untuk pindah tempat duduk.

Setelah diperhatikan, ternyata kaki si wanita itu cacat. Dan sang suami memang sudah melihatnya sejak tadi. Karena itulah, dia mengabaikan wanita itu yang mengambil jatah kursinya. Perjalanan pasangan itu bisa dibilang cukup panjang, namun selama itu pula sang suami tetap berdiri.

Begitu turun dari bus, si istri berkata pada suaminya, ”Memberikan tempat duduk pada orang lain yang membutuhkan memang baik. Tapi, bisa kan di separuh perjalanan, kau minta wanita itu untuk berdiri dan bergantian denganmu.”

Jawab sang suami, ”Wanita itu sudah tidak nyaman seumur hidupnya, sementara aku hanya kurang nyaman selama 3 jam saja.”

Saat menjadi pengusaha—apalagi dalam tahap memulai—kita memang acap kali merasa mampu melakukan semuanya sendirian. Banyak hal yang bisa—atau minimal kita merasa harus bisa—kita lakukan karena kita merasa bahwa bisnis tersebut adalah milik kita. Tak masalah memang. Namun, seiring dengan perkembangan yang terjadi, kita perlu berbagi.

Dalam konteks ini, berbagi bisa kita lakukan dalam banyak hal. Bukan hanya berbagi dengan karyawan yang menjadi bawahan di usaha baru kita, tapi juga berbagi dengan orang lain, relasi, atau pun partner usaha. Sehingga, dengan berbagi, kita akan mendapatkan manfaat maksimal untuk usaha yang kita jalani.

• Berbagi tanggung jawab

Hal pertama yang paling sering dialami oleh tipikal pengusaha one man show, alias semua dikerjakan sendiri, adalah sulit berbagi tanggung jawab. Kadang, karena merasa orang yang membantu kurang mumpuni atau kurang dipercaya—padahal sejatinya karena belum terbiasa—ia malas atau takut menyerahkan tanggung jawab kepada bawahan atau rekan kerja. Ujung-ujungnya, pekerjaan menumpuk dan kinerja justru jadi tidak maksimal.

Padahal, sejatinya, dengan berbagi tanggung jawab dan kepercayaan, kita justru akan mendapatkan banyak masukan. Karena itu, mulailah biasakan membagi tanggung jawab sesuai dengan peran dan potensi masing-masing individu yang ada dalam tim dalam usaha kita.

• Berbagi ilmu
Jangan pelit berbagi ilmu. Ini berkaitan pula dengan masalah tanggung jawab. Kadang, tak jarang kita masih menemukan berbagai kesalahan dilakukan oleh tim sehingga melunturkan kepercayaan. Jika ini terjadi, sebelum lebih parah, jangan segan berbagi ilmu kepada bawahan atau rekanan. Sebab, saat kita berbagi ilmu, bukannya berkurang, namun kita justru akan mendapatkan feedback ilmu lain yang barangkali juga dimiliki oleh orang-orang di sekeliling kita.

Memang, kemampuan dan kapabilitas yang kita bagikan kadang mengundang kecurigaan. Karena, bisa jadi orang tersebut saat menguasai ilmu yang sama, justru akan jadi pesaing utama kelak di kemudian hari. Kalau ini yang terjadi, hapuskan segera pikiran buruk itu. Sebab, bukankah jika kita selalu bisa memberikan yang terbaik, tak perlu takut akan kompetisi? Malahan bisa jadi, karena merasa dipercaya dan diberi banyak ilmu, seorang bawahan atau rekanan akan memberikan kontribusi yang lebih maksimal untuk kemajuan bersama.

• Berbagi informasi
Berbagai informasi penting berseliweran di sekeliling. Semuanya pasti mengandung ilmu atau pengetahuan yang akan berguna untuk menciptakan kesempatan. Karena itu, dengan berbagi informasi, kita justru akan mendapatkan banyak masukan dari berbagai pihak tentang kemungkinan peluang yang bisa kita kerjakan.

Selain itu, dengan berbagi informasi, kita juga bisa menjalin sinergi dengan berbagai komponen dari dalam dan di luar lingkup usaha kita. Sebab, kita tidak pernah tahu, bahwa ternyata orang di sekitar kita, barangkali memiliki sumber daya yang bisa kita maksimalkan untuk memuluskan usaha. Dan, semua itu bisa terjadi jika kita bisa saling menyebarkan informasi satu sama lain kan?

• Berbagi peluang
Hal ini berhubungan juga dengan pengembangan usaha. Semakin kita mau berbagi peluang, sebenarnya justru semakin besar kemungkinan usaha kita makin menggurita. Hal ini bisa kita lihat dengan sistem usaha waralaba atau franchise. Konsep usaha tersebut sebenarnya adalah konsep berbagi peluang dengan relasi.

Bayangkan, jika hanya dilakukan sendiri, untuk membuka cabang usaha, sebuah perusahaan pasti memerlukan banyak uang, waktu, dan tenaga. Tapi, dengan konsep saling berbagi peluang, maka peluang yang terbagi akan meratakan rezeki. Dan, sang franchisor atau pemilik waralaba sudah pasti akan diuntungkan dengan perluasan usahanya. Inilah bukti bahwa berbagi peluang bukannya mengurangi kesempatan, tapi justru menumbuhkan usaha hingga berlipat ganda.

• Berbagi rezeki
Konsep berbagi rezeki ini selain menegaskan konsep berbagi peluang, bisa juga kita lakukan dalam wujud berbagi hasil dengan karyawan di usaha kita. Berbagi rezeki dengan sistem bagi hasil ini sederhananya adalah konsep bekerja dengan upah berdasar kinerja. Makin maksimal kerja, makin besar pula hasil yang didapatnya. Sehingga, karyawan yang bekerja dengan kita pun akan “menghitung”, bahwa makin giat bekerja, makin besar pula pendapatannya. Ini selain mendorong kinerja, juga akan meningkatkan daya kreativitas seseorang dalam melakukan tugasnya.

Konsep berbagi rezeki ini bisa kita lihat pula dalam usaha network marketing dan sejenisnya. Dengan berbagi rezeki melalui sistem komisi atau sistem berjenjang, banyak bonus yang kemudian mampu mendorong orang untuk bekerja lebih maksimal.

Begitulah, inti dari berusaha sebenarnya terletak pada kesadaran kita berbagi. Dan, ada satu rahasia di balik semua “pembagian” ini. Seperti bilangan matematika, semua angka yang dibagi dengan nol, maka hasilnya tak berbilang. Jika kita mau membagi—menjadi sharing-preneur—dengan nol yang berupa ketulusan dan keikhlasan, maka hasil yang tak terbatas akan kita peroleh tanpa disadari.Jadi, mari kita mulai terus berbagi…

Kalau pola pikir bisa diubah, dunia pasti akan berbeda. Setiap hal dalam kehidupan ini bisa saja berubah, tergantung dari bagaimana cara manusia berpikir dan mengubahnya. Tiap saat manusia dihadapkan untuk memilih antara memaksakan hak atau kewajiban. Namun saat kita melepaskan hal dan lebih memilih memberi, di situlah kebahagiaan akan muncul.

Melakukan sesuatu yang baik ”dengan diketahui orang lain” adalah hal yang biasa. Namun, menjadi sesuatu yang luar biasa apabila kebaikan itu tidak diketahui orang lain. Kebaikan itu terasa lebih mulia dan tulus.

100 Orang Sudah Membaca Ini

Tabungan yang paling menguntungkan

Saat anda bertanya sebenarnya tabungan yang paling menguntungkan seperti apa, karena hampir semua bank menyatakan jika produk tabungan yang...

Order Jasa Kami? Cantumkan No HP dan Rincikan Rencana Anda

Nama

Email *

Pesan *