Kisah Sukses William Tanuwijaya Pendiri Tokopedia

Kisah sukes William Tanuwijaya,pendiri tokopedia -Saat memulai bisnis pada 17 Agustus 2009, William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison mungkin tidak menyangka Tokopedia bisa berkembang menjadi sebesar sekarang. Membawa visi untuk menjadikan Indonesia lebih baik dengan bantuan internet, pada waktu itu tujuan ini terdengar muluk-muluk. Lima tahun berselang, Tokopedia ternyata masih berjalan di jalur yang tepat.

Tokopedia dikenal masyarakat sebagai marketplace yang mempertemukan penjual dan pembeli untuk bertransaksi secara online. Layaknya pasar atau mal digital, penjual bebas membuka lapak untuk memajang produk-produknya, sedangkan pembeli pun dipersilakan untuk mencari, melihat-lihat, dan membeli produk yang dibutuhkan.

Selama lima tahun ini, cukup banyak pebisnis startup yang mengusung konsep bisnis serupa Tokopedia. Tapi, tidak semuanya mampu bertahan. “Di awal bisnis, kami mengalami masalah kepercayaan, baik dalam mencari pendanaan, perekrutan pegawai, meyakinkan mitra-mitra strategis, hingga penjual maupun pembeli. Namun, dengan kerja keras dan konsistensi, satu per satu hal tersebut bisa kami atasi,” kenang William Tanuwijaya (CEO, Tokopedia).

Salah satu kunci sukses Tokopedia adalah memberlakukan kebijakan bebas komisi untuk penjual. Artinya, Tokopedia tidak mengutip uang jasa sepeser pun dari setiap transaksi yang terjadi. Berbeda dengan marketplace lain yang umumnya mengenakan biaya komisi bervariasi (rata-rata 0,5 – 5%) per transaksi.

Tokopedia juga berhasil membangun komunitas penjual yang tepercaya serta menciptakan sejumlah kisah sukses berjualan online. Misalnya, seorang penjual ponsel yang awalnya hanya punya satu toko di pusat perbelanjaan Roxy, Jakarta. Sejak bergabung di Tokopedia, ia telah menjual lebih dari 9.000 gadget yang hasilnya bisa dipakai untuk membuka tiga toko baru. Ada pula cerita seorang ibu rumah tangga yang berjualan baju di Tokopedia sampai akhirnya bisa membuka butik sendiri.

Hal-hal tersebut yang menjadikan bisnis Tokopedia terus bertumbuh hingga saat ini. Mereka kini mempekerjakan lebih dari 150 karyawan. Volume transaksi setiap bulan mencapai lebih dari 3,2 juta produk dari ratusan ribu penjual (merchant), dengan peningkatan 15 – 30% per bulan. Tokopedia pun berhasil dipandang sebagai mitra strategis bagi bank dan perusahaan logistik.

Menarik Investor

Pencapaian yang patut diperhatikan adalah kemampuan Tokopedia untuk menarik minat investor. Tiap tahun, mereka selalu memperoleh suntikan dana dari pemilik modal. Salah satunya CyberAgent Ventures dari Jepang pada tahun 2011. Waktu itu, Tokopedia menjadi portofolio pertama CyberAgent Ventures yang berasal dari Indonesia.

Namun, berita paling menghebohkan tentu saja ketika Tokopedia sukses mendapatkan investasi US$100 juta (sekitar Rp1,2 triliun) dari dua nama besar, Sequoia Capital dan SoftBank, pada Oktober 2014. Investasi ini tercatat sebagai yang terbesar dalam sejarah perusahaan internet tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Asia Tenggara.

tokopedia-3
Salah satu upaya kampanye pemasaran Tokopedia dalam rangka Hari Pelanggan Nasional.
Sequoia Capital punya sejarah panjang dalam dunia penanaman modal. Mereka adalah investor awal di Apple, Cisco, Oracle, Yahoo!, Google, dan banyak perusahaan teknologi papan atas lainnya.

“Sequoia selalu berinvestasi kepada perusahaan-perusahaan yang diprediksi bisa menjadi perusahaan legendaris Saya sangat terkesan pada komitmen mereka untuk membantu perusahaan yang mereka modali, dengan pendekatan selalu mengedepankan kepentingan perusahaan tersebut terlebih dahulu,” kata William.

Sementara itu, SoftBank merupakan investor terbesar di Alibaba, perusahaan internet nomor satu di Tiongkok. Hubungan SoftBank dengan Alibaba dan pengalaman mereka membangun marketplace paling bernilai di dunia akan menjadi pelajaran berharga untuk Tokopedia. William sendiri mengagumi sosok Masayoshi Son (pendiri SoftBank). “Saya merasa sangat bersyukur memiliki kesempatan duduk di kursi baris depan untuk belajar langsung dari Masayoshi dan SoftBank,” tuturnya.

William menyatakan bahwa kucuran dana ini baru titik awal. Jika Tokopedia bisa memanfaatkan dana ini untuk berkembang menjadi lebih baik, kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia pun akan lebih mapan. Walhasil, mereka bakal datang lagi untuk mencari perusahaan lain yang bisa didanai. Harapannya, ekosistem bisnis internet di Indonesia pun dapat terakselerasi.

Fokus Meningkatkan Value

Uang seratus juta dolar sudah berada di tangan. Lalu, apa yang akan Tokopedia lakukan? Salah satunya untuk memperbanyak jumlah karyawan guna mengembangkan bisnis dan melayani konsumen yang terus bertambah. William menargetkan, jumlah 150 karyawan bisa mencapai ribuan dalam dua tahun ke depan. “Untuk menampung karyawan sebanyak itu, tentu kami harus membangun kantor sendiri. Inginnya seperti Googleplex (kantor pusat Google). Mungkin akan kami namakan Tokopedia Campus atau semacamnya,” tukasnya.

Karena berukuran besar, kantor ini diimpikan William berada di area khusus yang siap mendukung industri kreatif, layaknya Silicon Valley di AS. Misalnya, dekat dengan kampus yang siap menyuplai calon karyawan berkualitas setiap tahun. Oleh karena itu, ia mengundang para walikota untuk membangun area seperti itu. Ia pun mengharapkan peran serta para pelaku industri kreatif untuk bergerak bersama di tempat itu. Dengan demikian, akan banyak tenaga kerja baru yang diserap serta pajak yang disumbangkan kepada daerah itu.

Selain untuk membangun kantor dan menambah sumber daya manusia, suntikan dana Rp1,2 triliun itu juga akan dipakai untuk mempertahankan supaya Tokopedia tetap menjadi marketplace yang tanpa biaya. Tokopedia bahkan memberi subsidi untuk segala metode pembayaran yang seharusnya ada biayanya dari pihak perbankan. Timbul pertanyaan, dari mana Tokopedia memperoleh pemasukan?

Selama ini, metode monetisasi (perolehan uang) Tokopedia dengan mengandalkan fasilitas Gold Merchant yang sifatnya berlangganan sebesar Rp100 ribu/bulan. Gold Merchant mendapat beberapa feature tambahan dibandingkan merchant biasa. Fasilitas berbayar lainnya yaitu TopAds, feature iklan toko dengan biaya mulai dari Rp50 dan hanya dibayarkan jika iklan tersebut diklik.

Namun, diakui William bahwa sejauh ini Tokopedia memang belum fokus mencari revenue, tetapi lebih kepada meningkatkan value. “Keberhasilan kami tergantung dari seberapa berhasil kami membantu pengguna kami untuk menjadi lebih berhasil. Ini adalah model bisnis yang paling indah buat kami,” katanya.

Kemudian, masih ada porsi dana lainnya yang akan disediakan untuk mendukung peningkatan brand awareness Tokopedia. Contohnya dengan menunjuk artis muda Chelsea Islan sebagai brand ambassador. Chelsea bakal diikutkan dalam kegiatan-kegiatan promosi dan CSR (Corporate Social Responsibility) Tokopedia, antara lain roadshow dan edukasi kepada UKM dan masyarakat luas. Ia juga tampil dalam iklan televisi Tokopedia yang sudah bisa dilihat di layar kaca sejak bulan lalu.

Bukan Perusahaan E-Commerce

William menekankan bahwa Tokopedia bukanlah perusahaan e-commerce, melainkan perusahaan internet yang kebetulan memulai bisnis dengan membuka marketplace. Dalam dua tahun ke depan, mereka masih akan fokus di bisnis ini. Tapi, secara paralel, Tokopedia juga bakal mengembangkan produk-produk lainnya.

“Seperti Google mengawali bisnis dari search engine, lalu membuat Android dan Maps. Nah, Tokopedia memulai dengan mal digital; kami harus bisa memenangkan pasar terlebih dahulu, baru bisa tap konsumen di atas pasar tersebut,” tukas William.Dengan keberhasilan membangun startup dari nol sampai menjadi besar dan membantu banyak orang, kepuasan apa yang dirasakan William?

“Saya berasal dari kota kecil, dari keluarga biasa saja, dan hanya lulusan universitas swasta di Jakarta. Tidak fasih berbahasa Inggris dan tidak pernah keluar dari Indonesia sebelum tahun 2010. Kini saya punya kesempatan menjadi partner dari orang terkaya di Jepang, Masayoshi Son, serta dipercaya oleh firma yang berinvestasi di perusahaan legendaris seperti Apple dan Google. Kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri inilah yang merupakan kepuasan terbesar dalam perjalanan saya membangun Tokopedia,” jawab William panjang lebar.

100 Orang Sudah Membaca Ini

Tabungan yang paling menguntungkan

Saat anda bertanya sebenarnya tabungan yang paling menguntungkan seperti apa, karena hampir semua bank menyatakan jika produk tabungan yang...

Order Jasa Kami? Cantumkan No HP dan Rincikan Rencana Anda

Nama

Email *

Pesan *